Sabtu, 16 Mei 2020

Belajar dari Kisah Pendiri Gojek


Pada saat ini di Indonesia Gojek merupakan salah satu alat transportasi online yang sangat dikenal masyarakat luas. Gojek memberikan pelayanan seperti antar jemput penumpang, pengantaran makanan (go-food), pengantaran barang (go-send), dsb. Bisnis ini sangat menguntungkan dan memudahkan masyarakat untuk melakukan segala sesuatunya, contoh seperti, ketika butuh makanan tinggal pesan online dan makanan siap antar. Perlu diakui bahwa entrepreneur di Indonesia belum ada yang memiliki bisnis sekelas Mark Zuckerberg pendiri Facebook atau Drew Houston pendiri DropBox. Namun, Gojek ini merupakan salah satu bisnis yang kreatif dan berkembang di Indonesia.

           
Dibalik kesuksesan GoJek, ada sosok pendiri yang luar biasa bernama Nadiem Makarim yang menjadi pimpinan bisnis. Nadiem Makarim lahir pada 4 Juli 1984. Beliau sempat mengenyam pendidikan SMA di Singapura, pendidikan sarjana di International Relations di Brown University Amerika Serikat. Pendidikan Master di Harvard Business School. Sebelum mendirikan Gojek beliau sudah memiliki banyak pengalaman mengenai dunia bisnis, beliau pernah bekerja di sebuah perusahaan konsultan Mckinsey & Company, Managing Editor di Zalora Indonesia, Chief Innovation officer di kartuku.
Berdirinya bisnis ini mengambil dari kisah pengalaman hidupnya, Nadiem makarim adalah seorang yang setia menggunakan jasa ojek pangkalan, meskipun beliau memiliki mobil tetapi beliau lebih memilih jasa ojek karena kondisi Jakarta yang sering macet. Seseringnya naik ojek, Nadiem melihat permasalahan utama tukang ojek, seperti mangkal dan menunggu penumpang bahkan pengemudi harus bergiliran dengan pengemudi ojek lainnya, hal ini sangat tidak produktif menurutnya. Berdasarkan riset tersebut, Nadiem memiliki ide untuk melakukan inovasi bagaimana cara menghubungkan pengendara ojek dengan calon penumpangnya, salah satu solusinya adalah dengan memanfaatkan teknologi canggih yaitu gadget.
Awal Gojek berdiri pada tahun 2011, pada saat itu penumpang bisa menghubungi pengemudi melalui telephone dan SMS. Namun, setelah beriring waktu berjalan bisnis ini semakin canggih dan bahkan menyediakan beberapa jenis jasa lainnya. Dari hal ini, kita dapat mengambil pelajaran dari kisah Nadiem Makarim yaitu kita harus memiliki inovatif dan kreatifitas dalam membangun bisnis. Beliau mencari permasalahannya dan merumuskan solusinya, sebenarnya solusi cukup simple hanya saja beliau ingin menghubungkan antara pengemudi dan pelanggan. Dan sampai akhirnya Gojek memiliki respon positif oleh masyarakat dan gojek dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat.


Kamis, 07 Mei 2020

Strategi Membangun Bisnis di Era Digital


Perkembangan zaman sudah mulai maju, zaman dimana melakukan pekerjaan menggunakan alat-alat teknologi cangih. Di era digital akan membuka peluang yang besar bagi para pengusaha atau pedagang yang memasarkan ke antar Negara. Oleh karena itu kita sebagai pengusaha harus inovatif dan kreatif karena tidak semua orang menyadari bahwa di era digital akan mempermudah kita untuk mengembangkan bisnis. Sebagai pemuda milenial kita harus memanfaatkan dengan baik keadaan pada perkembangan zaman saat ini.
            Seperti yang kita tahu bahwa ‘era digital’ berkaitan dengan adanya ‘teknologi’ maka dari itu kita bisa memanfaatkannya sebagai strategi bisnis. Kebanyakan orang menganggap bahwa teknologi akan membuat suatu pekerjaan menjadi rumit, itu karena  kita tidak bisa mengaplikasikan teknologi. Sebenarnya, justru adanya teknologi akan mempermudahkan dan membantu pekerjaan manusia. Apalagi pada zaman modern seperti saat ini, mau tidak mau harus menggunakan teknologi. Untuk itu, kita harus mulai mempelajari dan menggunakan teknologi. Seperti hal yang bisa kita kerjakan yaitu dalam memasarkan barang dagangan kita melalui situs web, dengan inilah kita dapat memanfaatkan teknologi dengan sebaik mungkin.
            Sosial media mungkin sudah tidak asing lagi didengar oleh masyarakat. Ada beberapa macam sosial media yang saat ini banyak digunakan masyarakat, seperti Facebook, Whatsapp, Instagram, Twitter, line dan sebagainya. Sosial media sangat mudah untuk digunakan, tidak membutuhkan skill khusus untuk menggunakannya. Untuk itu, kita dapat menggunakan sosial media ini sebagai strategi usaha. Sangat mudah digunakan agar barang atau jasa kita bisa diketahui masyarakat luas atau public yaitu dengan cara memosting saja ke sosial media.
            Selain sosial media adapun aplikasi yang digunakan untuk membangun dan mengembangkan usaha. Saat ini sudah banyak yang menggunakan aplikasi untuk mengelola usaha, seperti Grab, Gojek, Shopee dan sebagainya. Dengan aplikasi-aplikasi tersebut dapat menghemat biaya, waktu dan juga tenaga. Seperti aplikasi Gojek, kita dapat memesan online makanan dan pesanan akan diantar sampai depan rumah. Aplikasi-aplikasi ini juga sangat memudahkan dan memberikan kenyamanan pada penggunanya. Untuk itu, para pembisnis harus memiliki inovasi yang tinggi untuk bisa membangun bisnis dan bersaing dengan kompetitor lainnya.
            Ingat, sebelum kita menerapkan strategi bisnis, kita harus memperhatikan kondisi bisnis kita terlebih dahulu. Kita dapat menggunakan analisis SWOT, analisis SWOT meliputi Stenghths (kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunities  (peluang) dan Threats (ancaman). Itulah beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam Strategi  bisnis di era digital.